Genteng Beton Bekas Bongkaran: Kapan Masih Layak Dipakai Ulang

Tumpukan genteng beton tertata berdiri di halaman, cara menyimpan yang membedakan barang layak pakai dan tidak

Setiap kali ada rumah lama dibongkar di sekitar sini, dalam beberapa hari pasti muncul tumpukan genteng beton bekas yang ditawarkan dengan harga yang terdengar terlalu bagus untuk dilewatkan. Sepertiga harga barang baru, kadang kurang dari itu. Dan pertanyaan yang masuk ke saya selalu sama: ini masih bisa dipakai atau tidak.

Jawabannya bukan ya atau tidak. Genteng beton bekas itu barang yang mutunya sangat bergantung pada satu hal yang tidak kelihatan di tumpukannya: bagaimana dia dibongkar. Keping yang dilepas satu per satu lalu diturunkan dengan ember masih bisa sebagus barang baru. Keping dari atap yang sama, yang dilempar ke bawah, sebagian besarnya sudah retak walau tidak satu pun terlihat pecah.

Tulisan ini isinya cara memilah di tempat, angka susut yang realistis, harga yang masuk akal, dan daftar jujur tentang untuk apa barang seperti ini memang cocok dan untuk apa tidak.

Umurnya Bukan Masalah, Perlakuannya yang Masalah

Ini yang perlu diluruskan lebih dulu, karena kebanyakan orang salah menaruh kekhawatirannya.

Genteng beton berumur lima belas tahun yang sudah menempel di atap tanpa masalah adalah keping yang sudah membuktikan dirinya. Betonnya sudah mengeras penuh, sudah melewati puluhan musim, dan justru lebih kuat daripada saat dia baru keluar cetakan. Kalau selama itu dia tidak retak, kemungkinan besar dia memang keping yang bagus.

Yang menghancurkan nilainya adalah hari pembongkaran. Membongkar atap itu pekerjaan yang biasanya dikejar waktu, dan cara tercepat adalah melepas keping lalu melemparkannya ke bawah ke tumpukan. Keping yang mendarat di atas keping lain menerima benturan di satu titik, dan hasilnya retak rambut yang tidak terlihat pada beton kering yang berdebu.

Karena itu, pertanyaan pertama yang sebaiknya Anda ajukan ke penjual bukan “ini umur berapa tahun”, melainkan “dibongkarnya bagaimana, dilempar atau diturunkan?”. Jawaban atas pertanyaan itu memberi tahu lebih banyak daripada semua yang bisa Anda lihat dari luar tumpukan. Kalau yang menjual tidak tahu karena dia membelinya lagi dari orang lain, perlakukan itu sebagai jawaban juga.

Ini juga alasan kenapa genteng beton bekas berbeda sifatnya dari material bekas lain. Paving block bekas bisa dinilai dari tampilannya karena dia tebal dan padat; sudut yang gompal terlihat jelas dan sisanya utuh. Genteng beton itu pelat tipis yang getas, dan kerusakannya justru yang paling tidak kasat mata. Perbandingan lengkap untuk paving saya tulis terpisah di catatan tentang paving block bekas bongkaran.

Memilah di Tempat: Lima Uji yang Bisa Anda Lakukan Sendiri

Semuanya tanpa alat khusus, dan semuanya sebaiknya dilakukan sebelum uang berpindah, bukan setelah barang sampai di rumah Anda.

  1. Uji ketuk. Pegang keping di satu sisi sehingga menggantung bebas, lalu ketuk bagian tengahnya dengan buku jari atau ujung obeng. Keping utuh berbunyi nyaring dan pendek. Keping yang retak berbunyi mendem, seperti ubin kopong. Bandingkan selalu dengan satu keping yang Anda yakin bagus, karena bedanya baru jelas kalau didengar berurutan. Ini uji tercepat dan paling ampuh; sepuluh keping bisa selesai dalam satu menit.
  2. Uji siram. Basahi permukaan sampai merata, lalu diamkan di tempat teduh beberapa menit. Retak menahan air lebih lama, jadi saat sekelilingnya mulai memudar, garis gelapnya masih tertinggal dan mendadak terlihat. Cara ini bisa memeriksa lima sampai sepuluh keping sekaligus.
  3. Periksa kait ekornya. Balik kepingnya. Kait di sisi bawah itu satu-satunya yang menahan keping supaya tidak melorot. Kait yang gompal, retak di pangkalnya, atau sudah aus jelas menandakan keping tersebut tidak boleh naik ke atap.
  4. Periksa bibir tumpangan samping. Alur di sisi kiri dan kanan keping adalah jalur air antar keping. Gompal di situ berarti air punya jalan masuk yang seharusnya tidak ada, dan ini cacat yang tidak bisa ditutup oleh apa pun setelah terpasang.
  5. Uji rata. Letakkan di lantai yang benar-benar datar, tekan sudut-sudutnya bergantian. Keping yang melengkung akan bergoyang seperti meja pincang. Keping bekas lebih sering melengkung daripada barang baru, karena bertahun-tahun bertumpu pada reng yang mungkin tidak rata.

Yang penting: uji dari beberapa lapisan tumpukan, bukan hanya lapisan atas. Kalau kepingnya dilempar dari atap, yang paling parah justru yang di bawah, karena dia menerima benturan dari semua keping yang mendarat sesudahnya.

Baca Juga : Cara Menguji Genteng Beton di Tempat Sebelum Dibayar

Susut yang Realistis, dan Kenapa Harga Murah Sering Tidak Murah

Ini hitungan yang mengubah pikiran banyak orang, dan menurut saya memang seharusnya begitu.

Dari tumpukan bekas bongkaran yang dijual campur, wajar kalau dua puluh sampai empat puluh persen pada akhirnya tidak layak naik ke bidang atap yang terlihat. Angka bawah untuk barang yang dibongkar hati-hati, angka atas untuk yang dilempar. Susut itu belum termasuk keping yang pecah lagi saat diangkut pulang dan saat dipasang.

Contohnya begini. Barang baru Rp5.000 per keping, bekas ditawarkan Rp2.000. Sekilas hemat enam puluh persen.

  • Anda beli 1.000 keping bekas: Rp2.000.000
  • Susut tiga puluh persen: yang terpakai 700 keping
  • Harga efektif per keping terpakai: Rp2.857
  • Tambah ongkos angkut yang sama beratnya dengan barang baru, dan waktu menyortir seribu keping, yang untuk dua orang memakan setengah hari

Hematnya masih ada, tapi tinggal sekitar empat puluh persen, bukan enam puluh. Dan itu untuk barang yang model campurannya belum tentu bisa dipasang dalam satu bidang.

Pegangan yang saya sarankan: bekas baru masuk akal kalau harganya di bawah setengah harga barang baru, dan lebih baik lagi kalau Anda diizinkan menyortir sendiri di tempat sebelum barang dimuat. Menyortir di halaman penjual selalu lebih menguntungkan daripada menyortir di rumah Anda, karena keping yang ditolak tidak ikut naik truk dan tidak ikut Anda bayar ongkosnya. Pertimbangan yang mirip berlaku untuk barang sortiran baru, dan saya bandingkan keduanya di tulisan tentang genteng beton sortiran dan KW dua.

Genteng beton ditata berdiri rapat di atas alas papan saat dimuat ke truk, cara mengangkut yang tidak menambah kerusakan

Masalah yang Tidak Bisa Diselesaikan dengan Menyortir: Model Campur

Ini kendala yang paling sering saya lihat menggagalkan rencana orang, dan tidak ada hubungannya dengan mutu keping.

Tumpukan bekas biasanya berasal dari lebih dari satu rumah, atau dari satu rumah yang atapnya sudah pernah diperbaiki dengan keping dari sumber lain. Hasilnya campuran beberapa model yang dari kejauhan terlihat serupa tapi ukuran tampaknya berbeda satu dua sentimeter.

Konsekuensinya keras: model yang berbeda tidak bisa dipasang dalam satu bidang atap. Bukan soal selera, tapi soal jarak reng. Satu bidang atap punya satu jarak reng, dan jarak itu hanya cocok untuk satu ukuran tampak. Memaksa dua model dalam satu bidang menghasilkan baris yang tidak bertemu dan tumpangan yang menipis di sebagian tempat. Alasan lengkapnya ada pada cara kerja jarak reng, yang saya uraikan di catatan tentang jarak reng untuk genteng beton.

Jadi sebelum menawar, pisahkan dulu tumpukan itu per model, dan hitung ada berapa keping dari model yang paling banyak. Angka itulah kapasitas sebenarnya dari pembelian Anda, bukan jumlah total tumpukannya. Kalau dari tiga ribu keping ternyata cuma seribu yang satu model, dan Anda butuh seribu lima ratus, tumpukan itu sebenarnya tidak menjawab kebutuhan Anda berapa pun murahnya.

Cara memisahkannya cepat: bandingkan panjang keseluruhan dan letak alur tumpangan sampingnya. Dua keping yang panjangnya sama tapi alur sampingnya berbeda posisi adalah dua model berbeda, sekalipun motifnya mirip.

Untuk Apa Genteng Beton Bekas Memang Cocok

Setelah semua peringatan di atas, ini sisi yang jujur: ada beberapa keperluan di mana barang bekas justru pilihan yang paling masuk akal, dan saya sendiri akan menyarankannya.

  • Cadangan tambalan untuk atap yang modelnya sama. Ini pemakaian terbaik. Kalau atap Anda memakai model yang sudah tidak diproduksi lagi, tumpukan bekas dengan model yang sama adalah satu-satunya sumber pengganti yang warnanya juga sudah menua sepadan.
  • Bangunan servis: gudang belakang, kandang, tempat cuci, garasi terpisah, pos jaga. Bidangnya kecil, mudah dijangkau kalau ada yang perlu diganti, dan tampilannya bukan pertimbangan utama.
  • Gazebo, kanopi, dan bangunan taman yang bidangnya kecil dan bebannya ringan.
  • Bangunan sementara di proyek: gudang material, kantor lapangan, tempat istirahat pekerja.
  • Bukan untuk atap: pembatas bedengan tanaman, alas jalan setapak, penutup saluran kecil, penahan tanah di taman miring. Untuk keperluan ini, keping yang retak sekalipun masih berguna.

Dan ini daftar sebaliknya, yang menurut saya tidak layak dipertaruhkan: bidang atap utama rumah tinggal, atap yang sulit dijangkau untuk perbaikan, atap rumah yang akan disewakan atau dijual, dan bagian atap di atas ruangan yang isinya barang berharga. Alasannya sederhana. Yang mahal dari atap bukan gentengnya, tapi ongkos memasang dan ongkos memperbaikinya kemudian. Menghemat satu setengah juta di material lalu membongkar bidang atap dua tahun lagi bukan penghematan.

Baca Juga : Sisa dan Cadangan Genteng Beton Setelah Proyek Selesai

Warna: Bagian yang Tidak Bisa Diperbaiki dengan Menyortir

Selain model, ada satu hal lagi yang tidak bisa diselesaikan seteliti apa pun Anda memilah: rona warnanya.

Keping bekas dari satu atap sebenarnya punya keuntungan tersendiri, karena semuanya menua bersama-sama dan warnanya sudah menyatu. Yang jadi soal adalah dua hal. Pertama, sisi keping yang selama bertahun-tahun tertutup keping baris di atasnya tidak ikut memudar, jadi ada bagian yang jelas lebih pekat. Setelah dipasang ulang bagian itu memang tertutup lagi, tapi kalau susunannya berubah, batas warnanya bisa muncul di tempat yang terlihat.

Kedua, dan ini yang lebih sering jadi masalah, tumpukan bekas yang berasal dari beberapa rumah akan membawa beberapa tingkat pemudaran sekaligus. Dipasang berdampingan, hasilnya bidang atap yang terlihat belang seperti tambal sulam. Kalau bidangnya kecil dan letaknya di belakang rumah, ini tidak jadi soal. Kalau bidangnya menghadap jalan, siapkan diri untuk tampilan yang tidak seragam, atau rencanakan mengecatnya sekalian.

Trik yang biasa dipakai tukang berpengalaman: sebar keping dari sumber yang berbeda secara acak ke seluruh bidang, jangan dikelompokkan. Mata manusia sangat peka pada batas antara dua area, dan sangat toleran pada variasi yang tersebar merata. Bidang yang kepingnya bervariasi acak justru terbaca sebagai bertekstur, bukan sebagai belang.

Kalau Anda Sendiri yang Membongkar

Keadaan yang berbeda, dan jauh lebih menguntungkan: Anda sedang merenovasi, atap lama dibongkar, dan Anda ingin menyimpan kepingnya untuk dipakai lagi. Di sini Anda mengendalikan satu-satunya faktor yang paling menentukan.

  • Lepas wuwungnya dulu, baru kepingnya, dan kerjakan dari punggungan turun ke bawah. Membongkar dari bawah membuat keping di atasnya kehilangan tumpuan dan bergeser sendiri.
  • Turunkan, jangan dilempar. Ember, tali, atau estafet dari tangan ke tangan. Ini yang menentukan apakah barang Anda masih bernilai atau tinggal puing.
  • Tumpuk berdiri miring bersandar, bukan rebah bertumpuk tinggi. Keping paling bawah dalam tumpukan rebah menanggung beban semua keping di atasnya selama berminggu-minggu, dan retak rambut lahir persis di situ.
  • Beri alas kayu supaya tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Noda tanah menyerap ke pori dan tidak hilang disikat.
  • Sortir sambil menurunkan, bukan nanti. Keping yang jelas retak tidak perlu ikut ditumpuk dan menghabiskan tempat.
  • Tutup dengan terpal yang tidak menyentuh permukaan keping, disangga supaya ada aliran udara. Terpal yang menempel rapat menahan lembap dan menumbuhkan lumut lebih cepat.

Dengan cara ini, tingkat keping yang masih layak pakai biasanya di atas delapan puluh persen, jauh lebih baik daripada tumpukan bekas yang Anda beli dari orang lain. Cara menumpuk dan menutupi ini sama persis dengan cara memperlakukan barang baru sebelum dipasang, yang saya rinci di catatan tentang menyimpan genteng beton di lokasi.

Pertanyaan yang Sering Masuk

Genteng beton bekas masih layak dipakai?

Bisa, tapi yang menentukan bukan umurnya melainkan cara membongkarnya. Keping yang dilempar ke bawah menyimpan retak rambut yang tidak terlihat.

Apa pertanyaan pertama ke penjual?

“Dibongkarnya bagaimana, dilempar atau diturunkan?” Jawabannya memberi tahu lebih banyak daripada yang bisa Anda lihat dari luar tumpukan.

Bagaimana cara cepat memeriksa keping bekas?

Ketuk bagian tengahnya sambil digantung. Bunyi nyaring berarti utuh, bunyi mendem berarti retak. Bandingkan dengan satu keping yang Anda yakin bagus.

Berapa susut yang perlu dihitung?

Dua puluh sampai empat puluh persen dari tumpukan campur, belum termasuk yang pecah saat diangkut dan dipasang.

Berapa harga yang masuk akal?

Di bawah setengah harga barang baru. Kalau lebih dari itu, ambil barang baru karena selisihnya habis oleh susut dan waktu menyortir.

Boleh mencampur dua model dalam satu bidang?

Tidak. Satu bidang atap punya satu jarak reng, dan jarak itu hanya cocok untuk satu ukuran tampak.

Untuk apa genteng bekas paling cocok?

Cadangan tambalan untuk atap bermodel sama, bangunan servis, gazebo, bangunan sementara, serta keperluan bukan atap seperti pembatas taman.

Kalau saya sendiri yang membongkar?

Lepas wuwung dulu, kerjakan dari atas ke bawah, turunkan jangan dilempar, tumpuk berdiri miring beralas kayu, dan sortir sambil menurunkan.


Menimbang Bekas atau Baru untuk Atap Anda?

Kalau Anda sedang membandingkan tumpukan bekas dengan barang baru, cara tercepat memutuskan adalah menghitung harga efektif per keping terpakai, bukan harga per keping yang dibeli. UD Pelita Emas Jaya di Jl. Raya Kedawung 99, Ngijo, Karang Ploso, Malang, mencetak sendiri genteng beton Multiline, Multiline Ladja, Urat Batu, Vertikal, dan Royal Natural sejak lebih dari tiga puluh tahun, dan melayani pembelian eceran maupun proyek. Sebutkan luas atap dan harga bekas yang Anda dapat lewat WhatsApp; kami hitungkan pembandingnya apa adanya, termasuk kalau ternyata bekas memang lebih masuk akal untuk keperluan Anda. Daftar model dan ukurannya bisa dilihat di halaman jual genteng beton kami.

Tinggalkan komentar