Telepon yang masuk biasanya terdengar seperti ini: halaman sudah terpasang separuh, tukangnya pamit ambil bahan dua minggu lalu dan sampai sekarang tidak kembali, barangnya masih menumpuk di pojok dan sudah berlumut, dan sekarang pemiliknya ingin melanjutkan. Pertanyaannya biasanya cuma satu, soal kurang berapa keping lagi. Padahal itu justru pertanyaan yang paling gampang di antara semua yang harus dijawab.
Melanjutkan pekerjaan paving block yang ditinggalkan di tengah jalan lebih rumit daripada mengerjakannya dari nol. Bukan karena teknik pemasangannya berbeda, melainkan karena Anda mewarisi keputusan orang lain yang tidak bisa Anda tanyai, di atas lahan yang sebagian sudah tertutup sehingga tidak bisa diperiksa, dengan bahan yang sudah berubah kondisinya, dan tanpa acuan kerja yang dipakai sebelumnya.
Kasus seperti ini datang ke kami beberapa kali setahun, dan saya perhatikan hasilnya sangat ditentukan oleh apa yang dikerjakan pada minggu pertama, sebelum ada tukang baru yang menyentuh apa pun. Bagian itu yang ingin saya uraikan.
Jangan Buru-buru Mencari Tukang Baru
Naluri pertama semua orang adalah mencari pengganti secepatnya supaya halaman selesai. Saya menyarankan sebaliknya: luangkan dua hari untuk memeriksa dan mencatat dulu. Alasannya praktis. Tukang baru yang datang ke pekerjaan setengah jadi akan memberi harga berdasarkan apa yang dilihatnya, dan kalau Anda sendiri tidak tahu apa yang ada di bawah hamparan, Anda tidak punya dasar untuk menilai apakah penawarannya masuk akal.
Empat hal yang perlu dicatat lebih dulu, dan semuanya bisa dikerjakan sendiri.
- Hitung sendiri barang yang tersisa, jangan pakai angka dari siapa pun. Hitung per tumpukan, catat jumlah keping utuh dan yang sudah pecah secara terpisah. Ini butuh waktu satu jam dan akan jadi dasar semua perhitungan berikutnya. Yang sering terjadi: angka yang disebut tukang lama lewat telepon lebih besar dari kenyataan, entah karena lupa atau karena sebagian terpakai untuk hal lain.
- Ukur luas yang sudah terpasang dan yang belum. Pakai meteran, gambar sketsa kasar di kertas dengan ukurannya. Sketsa ini yang nanti Anda tunjukkan ke tukang baru dan ke penjual barang, dan ia mencegah banyak salah paham.
- Foto seluruh kondisi apa adanya, termasuk yang jelek. Dari beberapa sudut, dan foto dekat untuk bagian yang terlihat tidak rata. Kalau nanti ada perselisihan dengan tukang lama, atau kalau tukang baru belakangan menyalahkan kondisi awal, foto bertanggal ini yang menyelesaikannya.
- Kumpulkan semua nota dan catatan pengiriman. Berapa yang dibeli, kapan, dari mana, jenis dan warnanya apa persisnya. Kalau nanti perlu menambah barang, informasi inilah yang menentukan apakah tambahannya bisa cocok dengan yang sudah ada.
Baca Juga : Serah Terima Pekerjaan Paving Block: Daftar Periksa Sebelum Melunasi Tukang
Menilai Bagian yang Sudah Terpasang
Ini keputusan yang paling menentukan biaya, dan sayangnya juga yang paling sering diambil terburu-buru. Pertanyaannya: apakah yang sudah terpasang layak diteruskan, atau lebih baik dibongkar sekalian.
Pemeriksaan dari atas saja tidak cukup, karena yang menentukan umur hamparan ada di bawahnya. Cara yang saya sarankan, dan yang selalu kami pakai kalau diminta melihat pekerjaan orang: angkat tiga keping di tiga tempat yang berbeda. Satu di tengah bidang yang sudah jadi, satu di tepi hamparan, satu lagi di jalur yang akan dilewati kendaraan. Congkel hati-hati dengan dua obeng, simpan kepingnya, lalu lihat ke dalam lubangnya.
Yang dicari ada empat, dan empat-empatnya bisa dinilai tanpa alat:
- Tebal lapisan alas. Masukkan penggaris sampai terasa keras. Kalau abu batunya lebih dari lima sentimeter, apalagi kalau sampai delapan atau sepuluh, itu tanda bahwa lapisan di bawahnya tidak diratakan dengan benar dan alas dipakai untuk menutupi ketidakrataan. Hamparan seperti ini akan bergelombang dalam satu sampai dua tahun.
- Ada tidaknya lapisan batu pecah di bawah alas. Kalau di bawah abu batu langsung tanah asli, dan halaman itu akan dilewati mobil, masalahnya serius. Untuk jalur orang saja mungkin masih bisa dihidupi.
- Kepadatan tanah di dasar lubang. Tekan dengan ujung obeng sekuat jari. Kalau masuk dengan mudah sedalam beberapa sentimeter, tanahnya tidak pernah dipadatkan dengan benar.
- Kondisi nat di sekeliling keping yang diangkat. Kalau pasir nat hanya mengisi bagian atas dan bawahnya berongga, berarti pengisian nat belum tuntas. Ini yang paling ringan di antara empat masalah dan bisa diselesaikan tanpa membongkar.
Dari hasil pemeriksaan itu, keputusannya biasanya jatuh ke salah satu dari tiga. Kalau semuanya wajar, teruskan dan cukup benahi natnya. Kalau alasnya terlalu tebal tapi lapisan bawah ada dan padat, teruskan dengan catatan bahwa bagian itu mungkin perlu dibenahi setempat beberapa tahun lagi, dan jangan lupa sisakan keping cadangan untuk itu. Kalau tidak ada lapisan batu pecah sama sekali di jalur kendaraan, saya sarankan membongkar bagian jalur itu saja sekarang, karena membongkarnya nanti setelah seluruh halaman selesai jauh lebih mahal dan lebih merepotkan.

Alas yang Sudah Berbulan-bulan Kehujanan
Bagian lahan yang sudah diurug dan diratakan tapi belum sempat dipasangi keping adalah bagian yang paling sering salah ditangani saat pekerjaan dilanjutkan. Kelihatannya masih siap pakai, tinggal diratakan sedikit lalu dipasangi. Dalam kenyataannya, lapisan itu sudah bukan lapisan yang sama dengan waktu ditinggalkan.
Yang terjadi selama berbulan-bulan terbuka itu berlapis-lapis. Permukaan abu batu tersiram hujan berkali-kali sehingga butiran halusnya tercuci turun dan membentuk kerak keras di permukaan sementara bagian bawahnya jadi lebih gembur. Lumpur dari air yang mengalir dari bagian lahan yang lebih tinggi mengendap di atasnya dan mengisi rongga antarbutir. Rumput dan biji-bijian tumbuh, akarnya masuk beberapa sentimeter. Kalau ada bagian yang cekung, di situ air menggenang lama dan tanah di bawahnya jadi jenuh dan lunak.
Memasang keping langsung di atas lapisan seperti itu akan menghasilkan hamparan yang turun tidak merata dalam waktu singkat, dan yang paling menyebalkan, turunnya baru mulai terasa setelah pekerjaan diserahterimakan dan tukangnya sudah dibayar. Yang benar adalah:
- Kupas lapisan atas sekitar tiga sampai lima sentimeter beserta semua rumput dan akarnya. Jangan hanya dicabut rumputnya, karena akar yang tertinggal akan tumbuh lagi lewat nat.
- Periksa bagian yang selama ini tergenang. Biasanya terlihat dari warnanya yang lebih gelap dan dari teksturnya yang lebih lunak. Bagian ini perlu digali lebih dalam sampai ketemu tanah yang padat, lalu diisi ulang dan dipadatkan berlapis.
- Padatkan ulang seluruh bidangnya. Lapisan yang sudah dipadatkan setengah tahun lalu tetap perlu dipadatkan lagi setelah dikupas, karena kadar airnya sudah berubah dan permukaannya sudah terganggu.
- Baru tebarkan abu batu baru setebal tiga sampai lima sentimeter sebagai alas, dan ratakan dengan jidar seperti pekerjaan baru.
Ini pekerjaan tambahan yang tidak ada di penawaran mana pun, dan tukang baru yang tidak menyebutkannya sama sekali saat menawar biasanya berarti ia berniat memasang langsung di atasnya. Menanyakan ini di depan adalah cara yang baik untuk menilai calon tukang.
Baca Juga : Menyiapkan Lahan Sebelum Paving Block Datang: Urutan yang Sering Terbalik
Barang Sisa yang Sudah Lama Menumpuk
Kabar baiknya, paving yang tersimpan lama umumnya tidak rusak. Ia beton, dan beton justru makin kuat seiring waktu. Tapi ada tiga hal yang berubah dan ketiganya berpengaruh pada hasil akhir.
Warnanya sudah tidak sama lagi dengan waktu datang. Keping yang terbuka di lokasi selama berbulan-bulan akan memucat kena matahari dan kadang berbercak putih karena kandungan kapurnya naik ke permukaan. Yang paling merepotkan: perubahannya tidak merata. Keping di tumpukan paling atas jauh lebih pucat daripada yang di dalam tumpukan, dan sisi yang menghadap matahari beda dengan sisi sebaliknya. Kalau langsung dipasang apa adanya, hasilnya belang-belang tidak beraturan.
Penyelesaiannya sederhana dan tidak butuh biaya: bongkar seluruh tumpukan dan campur. Ambil dari beberapa tumpukan sekaligus selama pemasangan, jangan menghabiskan satu tumpukan baru pindah ke tumpukan berikutnya. Kalaupun masih ada perbedaan warna, perbedaan yang tersebar merata jauh lebih enak dilihat daripada perbedaan yang berkelompok jadi bidang-bidang.
Lapisan paling bawah sering sudah retak. Tumpukan yang tingginya lebih dari sekitar satu setengah meter dan berdiri berbulan-bulan di atas tanah yang tidak rata akan membuat keping di bagian bawah menanggung beban terus-menerus di titik tumpu yang tidak merata. Periksa lapisan bawah satu per satu, jangan langsung dipakai. Ketuk dengan keping lain: bunyi nyaring berarti utuh, bunyi tumpul berarti ada retak di dalam.
Lumut dan tanah menempel di permukaan. Keping yang berlumut bisa dipakai, tapi bersihkan dulu dengan sikat dan air, dan biarkan kering. Memasang keping berlumut berarti memindahkan lumutnya ke hamparan baru, lengkap dengan sporanya, dan halaman itu akan berlumut jauh lebih cepat daripada seharusnya.
Baca Juga : Menyimpan Paving Block di Lokasi Sebelum Dipasang

Kalau Barangnya Kurang dan Harus Menambah
Ini hampir selalu terjadi, karena pekerjaan yang ditinggal di tengah jalan biasanya juga meninggalkan perhitungan yang tidak selesai. Yang perlu disiapkan sebelum memesan tambahan:
Bawa satu keping aslinya ke penjual, jangan mengandalkan foto atau nama warna. Nama warna tidak seragam antar produsen, dan foto lewat pesan hampir selalu menipu karena tergantung cahaya. Satu keping di tangan menyelesaikan persoalan itu dalam sepuluh detik.
Ukur kepingnya dengan teliti, jangan pakai ukuran nominal. Cetakan antar produsen tidak sama persis, dan selisih dua milimeter per keping akan menumpuk jadi beberapa sentimeter dalam sepuluh baris. Kalau keping tambahan ukurannya berbeda dari yang lama, garis natnya tidak akan nyambung di titik pertemuan, dan itu terlihat jelas.
Terima bahwa warnanya tidak akan sama. Keping baru pasti lebih pekat daripada keping yang sudah berbulan-bulan kena matahari, walaupun dibuat dari cetakan dan bahan yang sama. Setelah setahun keduanya akan mendekat, tapi pada hari pemasangan bedanya jelas. Karena itu, letakkan barang baru di tempat yang perbedaannya paling tidak mengganggu.
Soal penempatan ini ada aturan praktis yang saya pakai: batas antara barang lama dan barang baru sebaiknya jatuh di garis yang memang sudah jadi batas secara visual. Tepi carport, garis kanstin, tepi taman, atau sudut bangunan. Mata menerima perbedaan warna yang jatuh persis di garis pembatas sebagai sesuatu yang disengaja. Perbedaan warna yang berhenti di tengah bidang kosong akan selalu terlihat seperti tambalan, sekalipun selisihnya tipis.
Baca Juga : Menyambung Paving Block Lama dengan Hamparan Baru: Warna, Tinggi, dan Garis Sambungan
Menyambung ke Pola yang Sudah Ada
Tukang yang pergi membawa serta hal yang tidak terlihat tapi penting: benang acuan, garis kepala, dan rencana pola di kepalanya. Tukang baru harus membangun ulang acuan itu dari hamparan yang sudah ada, dan di situlah sering muncul sambungan yang miring.
Yang perlu dikerjakan sebelum keping pertama dipasang: tarik benang memanjang di sepanjang baris terakhir yang sudah terpasang, lalu periksa apakah baris itu benar-benar lurus. Cukup sering ternyata tidak. Kalau baris terakhir itu sudah menyimpang, menyambung mengikutinya akan meneruskan penyimpangan itu ke seluruh sisa halaman, dan di ujung lahan yang jaraknya sepuluh meter penyimpangannya bisa jadi beberapa sentimeter.
Jalan keluarnya: bongkar dua sampai tiga baris terakhir dari hamparan lama, lalu pasang ulang dengan acuan yang benar sambil meneruskan ke bidang baru. Ini pekerjaan setengah hari yang mencegah masalah di seluruh sisa halaman. Kalau penyimpangannya kecil, ia juga bisa diserap perlahan dengan mengatur lebar nat sedikit demi sedikit sepanjang beberapa baris, tapi cara ini butuh tukang yang telaten.
Satu lagi yang harus diperiksa sebelum melanjutkan: ketinggian. Ukur tinggi hamparan yang sudah jadi terhadap ambang pintu, terhadap saluran, dan terhadap permukaan jalan di depan. Pekerjaan yang ditinggalkan di tengah jalan kadang ditinggalkan justru karena ada masalah ketinggian yang tidak terselesaikan, dan meneruskannya tanpa memeriksa berarti mewarisi masalah itu untuk seluruh halaman.
Kesepakatan dengan Tukang Baru
Ini bagian yang tidak teknis tapi menentukan, dan pengalaman saya menunjukkan di sinilah pekerjaan lanjutan paling sering bermasalah untuk kedua kalinya.
Hal pertama yang perlu dimengerti, dan sebenarnya wajar: tukang baru tidak akan mau menanggung pekerjaan orang lain. Kalau bagian yang lama ambles setahun kemudian, ia tidak bisa disalahkan, dan ia akan mengatakan itu di depan kalau ia tukang yang jujur. Yang perlu Anda lakukan bukan memaksanya menjamin semuanya, melainkan membuat garis batas tanggung jawab itu jelas dan tertulis.
- Gambar garis batasnya di sketsa, dan foto kondisinya di hari kesepakatan. Sebelah sini pekerjaan lama, sebelah sana pekerjaan baru. Sederhana, tapi menghilangkan hampir semua perdebatan yang mungkin muncul belakangan.
- Pisahkan harga pekerjaan perbaikan dari harga pekerjaan baru. Membongkar dan memasang ulang bagian yang sudah ada itu pekerjaan yang berbeda dengan memasang di lahan kosong, dan biasanya ongkos per meternya memang lebih tinggi. Mencampurnya jadi satu angka borongan membuat Anda tidak bisa menilai apa pun.
- Bayar bertahap menurut kemajuan, bukan di muka. Ini pelajaran yang seharusnya sudah didapat dari kejadian sebelumnya. Bayar sesuai luas yang sudah selesai dan sudah diperiksa, dengan sisa terakhir dibayar setelah pemeriksaan bersama.
- Sepakati siapa yang menanggung barang yang pecah saat pemasangan. Pada pekerjaan lanjutan dengan barang yang sudah lama menumpuk, angka pecahnya lebih tinggi dari biasanya, dan lebih baik dibicarakan di depan daripada jadi perselisihan di tengah jalan.
- Tuliskan berapa keping yang ada saat pekerjaan dimulai. Angka hasil hitungan Anda sendiri di hari pertama tadi. Ini menutup kemungkinan perselisihan soal jumlah di akhir pekerjaan.
Soal tukang lama, saya biasanya menyarankan untuk tidak menghabiskan energi di situ kecuali jumlah uang yang tertahan memang besar. Yang lebih penting diselesaikan adalah halamannya. Tapi satu hal yang layak dikejar: minta kembali sisa bahan yang mungkin masih ada di tempatnya, dan tanyakan dari mana barang itu dibeli. Informasi terakhir ini sering jadi satu-satunya cara mendapatkan tambahan yang benar-benar cocok.
Kapan Membongkar Semuanya Justru Lebih Murah
Kadang jawaban yang benar memang membongkar semua dan mulai lagi dari awal. Ini terdengar boros, tapi ada situasi di mana ia justru pilihan yang paling hemat, dan pertimbangannya begini.
Keping paving hampir seluruhnya bisa dipakai ulang. Susutnya biasanya hanya beberapa persen. Jadi yang benar-benar hilang saat membongkar adalah ongkos tukang untuk membongkar dan memasang kembali, ditambah sedikit abu batu. Nilainya jauh lebih kecil daripada yang dibayangkan orang, karena biaya terbesar pekerjaan paving ada di barangnya, dan barangnya tidak hilang.
Bandingkan dengan meneruskan hamparan yang alasnya buruk: dalam dua tahun bagian itu akan bergelombang, dan membongkarnya nanti berarti membongkar hamparan yang sudah menyatu dengan yang baru, mengganggu bagian yang sebenarnya baik-baik saja, dan mengulang pekerjaan dengan keping yang warnanya sudah berbeda-beda. Biaya itu hampir selalu lebih besar daripada membongkar sekarang selagi halaman masih setengah jadi dan belum dipakai.
Tanda-tanda yang biasanya membuat saya menyarankan bongkar total: tidak ada lapisan batu pecah sama sekali padahal akan dilewati mobil, tanah dasar yang masih gembur waktu ditekan obeng, ketinggian hamparan yang ternyata salah terhadap ambang pintu atau saluran, dan hamparan yang sudah terlihat bergelombang padahal belum pernah dipakai. Kalau dua atau lebih dari empat tanda itu ada sekaligus, menurut saya jangan diteruskan.
Pertanyaan yang Sering Masuk
Apa yang pertama dikerjakan kalau tukang menghilang?
Hitung sendiri sisa barangnya, ukur luas yang sudah dan belum terpasang, foto kondisinya, dan kumpulkan nota. Baru cari tukang baru setelah itu.
Bagaimana menilai pekerjaan yang sudah terpasang?
Angkat tiga keping di tiga tempat berbeda. Periksa tebal alas, ada tidaknya lapisan batu pecah, dan kepadatan tanah dasar dengan menekan obeng.
Alas yang sudah berbulan-bulan terbuka bisa langsung dipasangi?
Tidak. Kupas 3 sampai 5 cm lapisan atas beserta akar rumput, benahi bagian yang sempat tergenang, padatkan ulang, baru beri abu batu baru.
Paving yang menumpuk lama masih layak dipakai?
Umumnya ya, betonnya justru makin kuat. Yang perlu dicek: lapisan paling bawah sering retak, dan warnanya memucat tidak merata sehingga tumpukan harus dicampur.
Barang tambahan warnanya beda, bagaimana?
Pasti beda karena yang lama sudah kena matahari. Letakkan batas antara barang lama dan baru persis di garis yang memang sudah jadi batas, seperti tepi carport atau kanstin.
Kapan lebih baik dibongkar semua saja?
Kalau tidak ada lapisan batu pecah di jalur mobil, tanah dasar masih gembur, ketinggiannya salah, atau sudah bergelombang sebelum dipakai. Kepingnya hampir seluruhnya bisa dipakai ulang.
Pekerjaan Paving Anda Berhenti di Tengah Jalan?
Kirim foto kondisinya, luas yang sudah terpasang, dan kalau ada, satu foto keping dari dekat. Dari situ bisa dibantu memperkirakan kekurangan barangnya dan mencarikan jenis yang paling mendekati yang sudah terpasang. UD Lancar Berkah Jaya Beton di Jl. Raya Kedawung 99, Ngijo, Karang Ploso, Malang, mencetak sendiri paving block, kanstin, dan genteng betonnya.