Pesanan untuk jalan makam hampir selalu datang menjelang Ramadan. Pengurus desa atau takmir musala menelepon dua sampai tiga minggu sebelum nyadran atau ruwahan, saat warga mulai berdatangan membersihkan makam keluarga, dan jalan setapaknya masih tanah yang becek sisa hujan. Dananya dari iuran warga, kadang dari sumbangan perantau yang pulang kampung, dan pekerjaannya kerja bakti.
Memasang paving block di makam kelihatannya sederhana, karena bebannya hanya orang berjalan kaki. Tetapi makam punya kondisi yang tidak ada di tempat lain: tanahnya digali dan ditimbun ulang terus-menerus, nisan dan kijing berdiri tidak beraturan, keranda dipikul enam orang berjalan berdampingan, dan truk hampir tidak pernah bisa masuk sampai dekat.
Catatan ini dari beberapa makam desa di Kabupaten Malang yang jalannya kami kirimi paving, dan dari obrolan dengan juru kunci yang merawatnya bertahun-tahun kemudian.
Bicara dengan Juru Kunci Sebelum Mengukur
Orang yang paling tahu makam bukan panitia, melainkan juru kunci atau modin yang menggali kubur. Ia tahu blok mana yang masih kosong, di mana makam lama yang nisannya sudah hilang, jalur mana yang dipakai membawa keranda, dan titik mana yang selalu tergenang setiap hujan.
Beberapa pertanyaan yang saya sarankan diajukan panitia kepadanya:
- **Di mana makam yang tidak bertanda?** Jalan setapak yang baru dipasang kadang ternyata melintas di atas makam tua yang nisannya sudah tenggelam. Ini bisa menjadi masalah besar dengan keluarganya belakangan.
- **Blok mana yang masih akan dipakai?** Jangan memasang paving di area yang masih akan digali. Paving itu pasti dibongkar, dan kepingnya jarang dikembalikan dengan rapi.
- **Jalur keranda lewat mana?** Jalur ini harus paling lebar dan paling rata.
- **Di mana tanah dari galian kubur biasanya ditumpuk?** Kalau ditumpuk di atas paving, keping di bawahnya akan kotor dan natnya penuh tanah liat.

Lebar Jalan: Ukur dengan Keranda, Bukan dengan Orang
Jalan setapak di makam desa sering dibuat selebar satu orang, sekitar enam puluh sampai delapan puluh sentimeter, karena memang begitu jalur tanah yang terbentuk dari langkah peziarah. Lebar itu cukup untuk ziarah, tetapi tidak untuk pemakaman.
Keranda dipikul oleh empat sampai enam orang, dua di kiri dan dua di kanan, ditambah orang-orang yang ikut berjalan di sampingnya. Pemikul di sisi luar akan berjalan di tanah di samping paving, sering di atas kijing makam lain. Kalau jalur keranda utama dibuat dari paving, lebar yang nyaman paling tidak seratus dua puluh sampai seratus lima puluh sentimeter.
Tidak semua jalan harus selebar itu. Yang saya sarankan: satu jalur utama yang lebar dari gerbang sampai bagian tengah makam, lalu cabang-cabang yang lebih sempit ke blok makam. Dengan begitu kebutuhan keping tetap masuk akal untuk dana iuran.
Pertimbangkan juga kereta jenazah dorong beroda kecil yang sekarang dipakai di beberapa desa. Roda kecil tersangkut pada keping yang tidak rata atau nat yang terlalu lebar. Jalur yang dilewati kereta dorong harus benar-benar rata, dan tanjakan dari gerbang ke jalan makam sebaiknya landai.
Baca Juga : Cara Menghitung Kebutuhan Paving Block per Meter Persegi, Termasuk Sisa Potongan
Tanah Makam Tidak Pernah Benar-benar Padat
Setiap kubur adalah galian sedalam sekitar satu setengah sampai dua meter yang ditimbun kembali. Timbunan itu turun perlahan selama berbulan-bulan, dan di makam desa yang padat, kubur baru sering digali tepat di samping jalan setapak.
Artinya, tepi jalan setapak di makam selalu berbatasan dengan tanah yang bisa turun. Paving yang dipasang dengan tepi bebas akan kehilangan keping di sisinya, satu per satu, mulai dari bagian yang bersebelahan dengan kubur baru.
Dari yang kami lihat bertahan lama:
- **Kanstin atau balok beton di kedua sisi jalan setapak**, ditanam cukup dalam. Di makam, pengunci tepi bukan pilihan, tetapi syarat.
- **Alas sirtu atau batu yang lebih tebal** daripada jalan setapak biasa, supaya jalan punya dasar sendiri yang tidak terlalu bergantung pada tanah di sampingnya.
- **Jarak aman dari kubur yang masih baru**, kalau memungkinkan. Kalau jalan terpaksa melintas di samping kubur yang digali kurang dari setahun, pasang jalan di bagian itu paling akhir, atau tandai sebagai bagian yang mungkin perlu diperbaiki.
Untuk kubur yang nanti akan digali persis di samping jalan, beri tahu penggali untuk tidak menggali terlalu dekat dengan kanstin. Dinding galian yang runtuh ke bawah kanstin membuat satu segmen jalan turun sekaligus.
Baca Juga : Pengunci Tepi Paving Block: Kenapa Barisan Pinggir Selalu Lepas Duluan
Nisan, Kijing, dan Pohon Kamboja
Jalan setapak di makam jarang lurus. Ia berbelok mengikuti kijing yang dibangun keluarga di masa yang berbeda, dengan ukuran yang berbeda-beda. Di beberapa titik, jalan menyempit karena ada kijing yang lebih lebar dari yang lain.
Bentuk keping menentukan seberapa banyak potongan yang harus dibuat. Bata 10,5 x 21 dan keping kecil 10,5 x 10,5 paling mudah dibelokkan dan disempitkan tanpa membuat potongan yang terlalu kecil. Bentuk diagonal dan wajik menghasilkan banyak potongan runcing di tepi yang tidak lurus.
Hal yang perlu dijaga saat memasang di samping kijing:
- **Jangan membongkar atau memotong kijing** untuk meluruskan jalan tanpa izin keluarganya. Ini pernah menjadi masalah di salah satu desa yang kami kirimi, dan akhirnya satu bagian jalan harus dibongkar lagi.
- **Beri celah beberapa sentimeter antara kanstin jalan dan kijing.** Kijing punya pondasi sendiri yang bergerak berbeda. Kalau ditempelkan rapat, salah satunya akan retak.
- **Pemotongan keping dilakukan di luar area makam**, di dekat gerbang. Debu dan suara gerinda di tengah makam kurang pantas, apalagi kalau sedang ada peziarah.
Pohon kamboja dan beringin tua yang biasa tumbuh di makam punya akar yang dangkal dan menyebar. Jalan yang dipasang di atas jalur akar akan terangkat dalam beberapa tahun. Hindari memotong akar besar, karena pohon tua di makam hampir tidak pernah boleh ditebang, dan akar yang dipotong bisa membuat pohonnya tumbang.

Baca Juga : Paving Block di Sekitar Pohon: Akar yang Mengangkat Hamparan dan Cara Menyiasatinya
Air Siraman dan Genangan
Peziarah menyiram makam dengan air. Pada hari-hari ramai seperti menjelang puasa dan lebaran, ratusan ember air dituang dalam satu hari, dan sebagian besar mengalir ke jalan setapak yang biasanya lebih rendah dari kijing di sampingnya.
Jalan setapak yang posisinya lebih rendah dari kijing di kiri-kanannya berubah menjadi selokan kecil. Air ini tidak bisa lari ke samping karena terhalang kijing, jadi mengalir sepanjang jalan dan menggenang di titik terendah. Di situlah paving pertama kali turun.
Yang bisa dilakukan saat merencanakan:
- **Buat jalan sedikit lebih tinggi dari tanah di sekitarnya**, bukan lebih rendah. Beberapa sentimeter sudah cukup untuk membuat air mengalir ke samping.
- **Tentukan titik buangan air** di ujung jalan atau di bagian terendah makam, misalnya resapan kecil atau saluran menuju sungai atau sawah. Tanpa titik buangan, air tetap akan berkumpul.
- **Sediakan keran atau tempat air di dekat gerbang, bukan di tengah makam.** Tempat mengambil air di tengah makam membuat satu titik selalu becek.
Baca Juga : Air di Area Paving Block: Genangan, Resapan, dan Ke Mana Airnya Pergi
Pengiriman ke Makam: Hampir Selalu Harus Dilangsir
Makam desa jarang punya akses truk sampai ke dalam. Gerbangnya sempit, jalannya melewati gang kampung, atau lokasinya di tengah sawah dengan jalan tanah. Truk kami biasanya menurunkan paving di jalan terdekat yang bisa dilewati, lalu kepingnya dibawa masuk oleh warga dengan gerobak dorong atau angkong.
Beberapa hal yang membuat hari pengiriman lebih lancar:
- **Tentukan tempat bongkar sebelum truk berangkat**, dan pastikan tanahnya kering dan cukup keras. Truk bermuatan paving yang terperosok di jalan tanah dekat sawah bisa memakan waktu setengah hari.
- **Siapkan orang yang cukup saat truk datang.** Menurunkan satu truk paving dengan tangan butuh beberapa orang dan beberapa jam.
- **Siapkan papan untuk jalur gerobak** di atas tanah yang lunak dan di atas tangga gerbang.
- **Jangan menumpuk keping di atas kijing atau di dekat nisan.** Tumpukan keping berat dan bisa menggores atau meretakkan kijing.
Karena pekerjaan kerja bakti biasanya hanya berlangsung akhir pekan, paving bisa tersimpan di dekat makam selama beberapa minggu. Susun berdiri di atas balok kayu, jauh dari jalur air, dan tutup kalau memungkinkan.
Baca Juga : Truk Tidak Bisa Masuk Lokasi: Langsir Paving Block, Gang Sempit, dan Biaya yang Tidak Terhitung
Parkir Peziarah di Depan Gerbang
Pada hari-hari ramai, motor peziarah diparkir di depan gerbang, di pinggir jalan, atau di tanah kosong di samping makam. Area ini dilewati jauh lebih banyak beban daripada jalan setapak di dalam makam, dan sering terlupakan saat merencanakan.
Kalau dana cukup, area parkir motor di depan gerbang lebih bermanfaat dipaving lebih dulu daripada cabang jalan di sudut makam. Pilihan keping di sini berbeda dengan jalan setapak: area parkir yang luas bisa memakai grass block atau diagonal berlubang supaya air hujan tetap meresap, sementara jalan setapak di dalam makam lebih baik memakai keping padat yang mudah dibersihkan.
Baca Juga : Paving Block untuk Parkir Motor: Jejak Standar, Pola Susun, dan Arah Kemiringan
Membagi Pekerjaan Menjadi Tahap
Dana iuran jarang cukup untuk seluruh makam sekaligus. Pembagian tahap yang biasanya paling masuk akal:
- Area parkir dan gerbang, supaya peziarah tidak membawa lumpur ke dalam.
- Jalur keranda utama dari gerbang ke tengah makam.
- Cabang-cabang ke blok makam yang paling sering diziarahi.
- Cabang ke blok lain dan jalan keliling.
Rencanakan seluruh jaringan jalan sejak tahap pertama, termasuk tinggi permukaan dan arah air, walaupun yang dipasang baru jalur utama. Beri kanstin di ujung setiap tahap supaya tepi yang belum bersambung tidak lepas. Catat bentuk, warna, dan tebal keping yang dipakai, lalu simpan catatannya di kantor desa atau di rumah juru kunci, supaya panitia tahun depan bisa memesan keping yang sama.
Untuk panitia yang menggalang dana dari perantau, menghitung sumbangan per meter persegi sering lebih mudah dipahami penyumbang daripada per biji. Satu meter persegi paving bata 10,5 x 21 berisi sekitar 44 keping; untuk kebutuhan dana, tambahkan juga pasir alas, kanstin, dan ongkos kirim.
Baca Juga : Paving Block untuk Gang Kampung dan Jalan Desa Swadaya: Merencanakan Pekerjaan Patungan
Setelah Terpasang: Siapa yang Merawat
Jalan paving di makam jarang rusak karena beban. Ia rusak karena tidak ada yang merasa memilikinya. Panitia bubar setelah kerja bakti, dan juru kunci menganggap perbaikan paving bukan tugasnya kalau tidak ada dananya.
Dari makam-makam yang jalannya masih rapi setelah lima tahun, ada beberapa kebiasaan yang sama:
- **Pemeriksaan setelah hari ramai.** Seminggu setelah lebaran atau nyadran, juru kunci atau satu pengurus berjalan menyusuri seluruh jalan dan mencatat keping yang goyang, turun, atau pecah. Perbaikan satu dua keping setelah hari ramai jauh lebih ringan daripada perbaikan satu segmen setahun kemudian.
- **Keping cadangan disimpan di makam.** Beberapa puluh keping dari pesanan yang sama, disusun berdiri di dekat rumah juru kunci atau di gudang musala. Keping dari pesanan lain hampir pasti berbeda warna sedikit, dan di jalan yang pendek perbedaannya terlihat jelas.
- **Tanah galian kubur tidak ditumpuk di atas paving.** Kesepakatan sederhana ini mencegah nat tersumbat tanah liat, yang membuat air tidak bisa meresap dan permukaan licin saat hujan.
- **Rumput di nat dicabut, bukan disemprot.** Obat rumput yang disemprot di jalan setapak mengalir ke tanah makam di sampingnya, termasuk ke tanaman yang ditanam keluarga di atas kubur.
- **Kotak iuran perawatan kecil.** Beberapa desa meletakkan kotak di gerbang dengan tulisan untuk perawatan jalan makam. Isinya tidak banyak, tetapi cukup untuk sekarung pasir nat dan beberapa keping pengganti setiap tahun.

Baca Juga : Paving Block Cadangan: Berapa Keping yang Harus Disisakan dan Kenapa Harus Sebatch
Ringkasan
- Ajak juru kunci menentukan jalur: makam tak bertanda, blok yang masih dipakai, dan jalur keranda
- Jalur keranda utama 120–150 cm, cabang ke blok makam boleh lebih sempit
- Kanstin di kedua sisi wajib karena tanah di sampingnya terus digali dan turun
- Bata 10,5 x 21 dan 10,5 x 10,5 paling mudah mengikuti jalan yang berbelok di antara kijing
- Jalan dibuat sedikit lebih tinggi dari tanah sekitar dan diberi titik buangan air siraman
- Siapkan tenaga, gerobak, dan tempat bongkar karena truk jarang bisa masuk
- Dahulukan parkir dan gerbang, lalu jalur utama, lalu cabang
Pertanyaan yang Sering Masuk
Berapa tebal paving block untuk jalan makam?
6 cm sudah cukup untuk pejalan kaki dan keranda. Parkir motor di depan gerbang juga cukup 6 cm.
Berapa lebar jalan setapak makam yang ideal?
Jalur keranda utama 120–150 cm, cabang ke blok makam 80–100 cm.
Apakah perlu kanstin di jalan makam?
Perlu. Tanah di samping jalan terus digali untuk kubur baru dan mudah turun.
Bentuk paving apa yang cocok?
Bata 10,5 x 21 atau kotak kecil 10,5 x 10,5 karena mudah dibelokkan di antara kijing.
Bagaimana kalau truk tidak bisa masuk ke makam?
Barang diturunkan di jalan terdekat lalu dilangsir warga dengan gerobak. Sepakati titik bongkar sebelum pengiriman.
Merencanakan Jalan Makam Desa?
Kirim denah kasar makam, panjang jalur yang ingin dipasang, dan foto akses jalan menuju gerbang. Dari situ bisa dihitung keping, kanstin, dan titik bongkar truk yang paling dekat, termasuk kalau pekerjaannya dibagi beberapa tahap sesuai dana. UD Lancar Berkah Jaya Beton di Jl. Raya Kedawung 99, Ngijo, Karang Ploso, Malang, mencetak sendiri paving block, kanstin, dan genteng betonnya.