Pesanan untuk pasar desa biasanya datang dari panitia, bukan dari satu orang. Ada kepala desa atau pengurus BUMDes, ada perwakilan paguyuban pedagang, dan kadang ada pemborong yang sudah ditunjuk. Rapatnya panjang, anggarannya sering bertahap, dan yang paling ditunggu dari kami biasanya satu hal: angka per meter persegi yang bisa dimasukkan ke proposal.
Angka itu penting, tapi dari beberapa pasar desa dan pasar pagi di sekitar Malang yang pernah kami kirimi barang, saya belajar bahwa yang membuat hamparan pasar cepat rusak jarang soal harga keping. Pasar punya kombinasi beban yang tidak ada di tempat lain: truk sayur yang bongkar muat sebelum subuh, gerobak roda kecil yang bolak-balik sepanjang pagi, air cucian ikan dan daging yang mengalir setiap hari, dan sampah organik yang membusuk di sela-sela lapak. Paving block di pasar harus dirancang untuk semua itu sekaligus.
Pasar Adalah Tiga Area yang Berbeda
Kesalahan perencanaan yang paling sering kami lihat adalah memperlakukan seluruh halaman pasar sebagai satu area dengan satu jenis keping. Padahal kalau diamati pagi-pagi, pasar terbagi jelas menjadi tiga zona dengan beban yang sangat berbeda.
Zona bongkar muat. Biasanya di pinggir pasar dekat jalan, tempat truk engkel, pikap, dan kadang truk tronton berhenti sebelum subuh untuk menurunkan sayur, buah, atau karung beras. Truk di sini berhenti, mundur, dan maju berkali-kali di tempat yang sama. Setir diputar saat truk diam. Ini beban paling berat di seluruh pasar.
Jalur gerobak dan motor. Lorong di antara deretan lapak yang dilewati gerobak dorong, troli barang, dan motor pedagang yang mengantar dagangan. Bebannya ringan per kendaraan, tapi jumlah lintasannya sangat banyak dan terpusat di jalur yang sempit.
Area lapak dan pejalan kaki. Tempat pedagang menggelar dagangan dan pembeli berjalan. Beban kendaraannya hampir nol, tapi di sini paling banyak air, sampah, dan tumpahan.
Tiga zona ini sebaiknya dipetakan dulu di atas denah sebelum barang dipesan. Dengan peta itu, anggaran bisa diarahkan ke tempat yang benar-benar membutuhkan, dan tidak dihabiskan untuk menebalkan seluruh area secara merata.
Zona Bongkar Muat: Tempat Anggaran Paving Block Paling Layak Dihabiskan
Di zona bongkar muat, keping delapan sentimeter adalah pilihan minimum, dan alasnya harus lebih tebal serta lebih padat daripada area lain. Truk yang membawa berton-ton sayur, lalu berhenti dengan rem mendadak di atas hamparan yang basah embun subuh, memberi dorongan ke depan yang besar pada keping di bawah roda. Di atas alas yang kurang padat, keping di titik berhenti truk akan turun membentuk dua alur sejajar dalam hitungan bulan.
Bentuk keping juga lebih menentukan di sini. Bentuk yang saling mengunci di beberapa sisi, seperti bata yang dipasang pola tulang ikan atau keping bergerigi, lebih tahan terhadap dorongan dan puntiran roda truk daripada keping kotak yang dipasang dengan garis nat lurus. Pola susun yang garis natnya menerus searah gerakan truk adalah pola yang paling cepat bergeser.
Pengunci tepi di zona ini sebaiknya kanstin berbadan tebal yang ditanam dalam, bukan kanstin taman yang ringan. Truk yang mundur untuk mendekat ke lapak sering naik ke tepi hamparan, dan tepi yang lemah akan terdorong keluar. Kalau zona bongkar muat berbatasan langsung dengan jalan desa beraspal, sambungan antara aspal dan paving adalah titik yang harus diperhatikan paling teliti, karena di situ roda turun naik dan air dari jalan masuk.
Untuk panduan tebal dan beban, tulisan memilih paving block sesuai beban area merangkum pembagiannya.

Jalur Gerobak: Roda Kecil, Beban Terpusat
Gerobak dorong di pasar sering dianggap tidak berarti bagi paving. Kenyataannya, gerobak besi dengan roda kecil bermuatan satu kuintal sayur memusatkan bebannya di bidang sentuh yang sangat kecil. Satu lintasan tidak apa-apa. Ratusan lintasan setiap pagi, di jalur yang sama, selama bertahun-tahun, meninggalkan bekas.
Bekas yang paling sering kami lihat bukan keping ambles, melainkan tepi keping yang gompal. Roda kecil tidak bisa menggelinding mulus melewati nat. Setiap kali melintas celah, roda menghantam tepi keping berikutnya. Kalau tepinya tajam dan mutunya rendah, serpihan kecil lepas. Setelah setahun, jalur gerobak terlihat seperti jalur berlubang kecil-kecil.
Ada tiga hal yang membantu. Pertama, keping bermutu baik yang padat, karena mutu permukaan lebih penting daripada tebal untuk roda kecil. Kedua, nat yang selalu terisi penuh, supaya roda tidak jatuh ke celah. Ketiga, bentuk keping yang lebih besar dengan lebih sedikit garis nat di jalur gerobak, misalnya keping 20 x 20 atau corso, karena setiap garis nat yang dikurangi adalah satu hentakan roda yang hilang.
Satu pengamatan kecil: di beberapa pasar, pedagang menambal jalur gerobak yang gompal dengan adukan semen. Hasilnya tambalan keras yang tidak rata, dan roda gerobak justru tersandung di tambalan itu. Lebih baik keping gompal diganti per keping, dan untuk itu pengelola pasar perlu menyimpan cadangan keping.
Baca Juga : Mutu Paving Block K-175 sampai K-400 dan Kelas SNI: Membaca Angka di Penawaran
Air Cucian, Darah Ikan, dan Sisa Sayur
Ini bagian yang paling membedakan pasar dari halaman lain. Di sekitar los ikan, daging, dan ayam potong, air mengalir hampir sepanjang pagi. Pedagang menyiram lapaknya, mencuci baskom, dan membuang air es yang mencair ke lantai. Air ini bercampur lemak, darah, dan sisik, lalu masuk ke nat.
Air yang masuk ke nat membawa bahan organik ke lapisan pasir di bawah keping. Bahan organik ini membusuk, pasir alas jadi berlumpur, dan kekuatannya menurun. Di pasar yang lantainya paving tanpa saluran di los basah, kami pernah melihat hamparan di depan los ikan turun dan berbau busuk setelah dua tahun, sementara hamparan di depan los pakaian di sebelahnya masih rata.
Untuk los basah, saran saya ada dua pilihan. Pilihan yang paling awet adalah tidak memakai paving tepat di bawah dan di depan los basah, melainkan lantai cor dengan kemiringan yang jelas ke saluran, lalu paving dimulai di luar zona basah itu. Pilihan kedua, kalau tetap ingin paving, adalah memastikan setiap los basah punya saluran terbuka di depannya yang menampung air sebelum menyebar ke hamparan, dan kemiringan hamparan diarahkan ke saluran itu, bukan ke jalur pejalan kaki.
Saluran di pasar sebaiknya saluran terbuka dengan tutup yang bisa diangkat, seperti U-ditch dengan tutup beton. Saluran tertutup permanen di pasar akan tersumbat sisik ikan dan kulit bawang dalam hitungan minggu, dan membersihkannya berarti membongkar paving di atasnya.

Sampah Organik dan Lumut di Sela Lapak
Area di bawah meja lapak dan di sela-sela antar lapak adalah area yang jarang tersapu. Sisa sayur, daun pisang pembungkus, dan kulit buah menumpuk di sana, lalu membusuk dalam lembap. Di atas paving, sampah organik yang membusuk meninggalkan noda hijau kehitaman dan menjadi tempat tumbuhnya lumut.
Paving yang berlumut di pasar bukan hanya soal tampilan. Lumut yang basah membuat permukaan licin, dan di pasar yang ramai pembeli lanjut usia, jatuh terpeleset bukan kejadian langka. Kami pernah diminta memberi saran untuk pasar yang pengurusnya ingin mengganti paving karena “licin”, padahal kepingnya masih bagus. Masalahnya ada di sampah yang tidak pernah tersapu dari bawah lapak dan air yang tidak pernah kering.
Warna keping juga berpengaruh di sini. Paving abu natural menyamarkan noda organik lebih baik daripada paving merah atau abu halus yang terang. Di pasar yang sudah berumur, hamparan merah di area lapak hampir selalu terlihat kotor, sementara hamparan abu natural dengan tingkat kotor yang sama terlihat lebih bersih. Untuk area lapak, pilih warna yang tidak menuntut kebersihan sempurna.
Cara membersihkan lumut dan noda di paving ada di tulisan merawat paving block. Yang lebih penting untuk pasar adalah jadwal: sapu dan siram setelah pasar tutup setiap hari, dan sikat dengan sikat kasar seminggu sekali di area los basah.
Tenda, Tiang Lapak, dan Payung Besar
Di pasar pagi dan pasar tiban, pedagang mendirikan lapak dengan tiang besi, tenda, atau payung besar yang tiangnya dipasak. Kalau tidak diatur, pedagang akan membongkar satu keping untuk menancapkan tiang ke tanah, lalu keping itu diletakkan kembali seadanya atau hilang. Setelah beberapa bulan, hamparan di area lapak penuh lubang bekas tiang.
Lebih baik titik tiang direncanakan sejak awal. Beberapa pasar yang kami lihat menanam pipa selongsong atau lubang beton kecil di titik-titik tiang yang sudah disepakati dengan paguyuban pedagang, dan paving dipasang mengelilinginya. Pedagang tinggal memasukkan tiang ke selongsong setiap pagi dan mencabutnya siang hari. Hamparannya utuh, lapaknya rapi, dan pembagian tempat antar pedagang jadi lebih jelas.
Payung besar dengan pemberat berupa bak semen juga perlu tempat. Pemberat seberat itu yang diletakkan di tepi keping menimbulkan beban titik, dan kalau dipindah-pindah dengan diseret, permukaan keping tergores. Soal beban titik ada di beban titik: tandon, genset, dan kaki tenda.
Anggaran Bertahap dan Urutan Pengerjaan
Anggaran pasar desa jarang turun sekaligus. Yang lebih sering terjadi: tahun ini dana desa cukup untuk sepertiga halaman, tahun depan sepertiga lagi. Dengan kondisi ini, urutan pengerjaan menjadi keputusan penting.
Saran saya, kerjakan dari titik yang paling berat dan paling sulit diperbaiki lebih dulu, yaitu zona bongkar muat dan sistem saluran. Saluran utama sebaiknya dibangun di tahap pertama meskipun sebagian halaman belum dipaving, karena saluran yang dibangun belakangan berarti membongkar hamparan yang sudah jadi. Jalur gerobak di tahap berikutnya, dan area lapak terakhir, karena area lapak bisa sementara memakai lantai tanah yang dipadatkan atau sirtu tanpa terlalu mengganggu.
Masalah lain dari pengerjaan bertahap adalah warna dan ukuran yang tidak sama antar tahap. Hamparan tahap pertama yang sudah setahun terkena matahari akan terlihat lebih pucat dari tahap kedua. Kalau pasar ingin terlihat rapi, rencanakan garis batas antar tahap di tempat yang wajar, misalnya di tepi saluran atau di batas zona, dan jangan di tengah lorong. Tulisan menyambung hamparan lama dengan yang baru membahas ini lebih jauh.
Pengalaman kami dengan pekerjaan swadaya di desa juga berlaku di pasar: dokumentasikan spesifikasi keping tahap pertama, termasuk tebal, bentuk, warna, dan asal cetakan, dan simpan di kantor desa. Pengurus bisa berganti, dan pengurus baru yang tidak tahu spesifikasi awal sering memesan keping yang tidak cocok. Pengalaman soal dana bertahap ada di tulisan gang kampung dan jalan desa swadaya.
Memasang Paving Block Saat Pasar Tetap Buka
Pasar desa hampir tidak pernah bisa ditutup untuk pengerjaan. Pedagang menggantungkan hidup pada hari pasaran, dan menutup pasar seminggu berarti kehilangan penghasilan seminggu. Karena itu, pekerjaan harus dibagi per blok dan dijadwalkan di sela jam pasar.
Pasar pagi biasanya selesai sebelum tengah hari. Tukang bisa mulai setelah pasar bubar dan bekerja sampai sore, lalu blok yang sedang dikerjakan ditutup pembatas sebelum pasar dibuka lagi subuh berikutnya. Yang penting, blok yang dikerjakan hari itu harus selesai sampai tahap nat terisi dan dipadatkan sebelum truk bongkar muat datang. Hamparan setengah jadi yang dilewati truk sayur jam tiga pagi akan rusak sebelum sempat dipakai.
Pengiriman barang juga perlu dijadwalkan. Truk kami yang datang di tengah jam pasar tidak bisa masuk dan menurunkan barang tanpa mengganggu pedagang. Kami biasanya mengatur pengiriman ke pasar di siang atau sore hari, dan tumpukan paving diletakkan di area yang tidak menjadi jalur pedagang esok paginya. Cara menyimpan paving di lokasi ada di menyimpan paving block sebelum dipasang.

Yang Perlu Disepakati dengan Paguyuban Pedagang
Pasar yang hamparannya awet bukan hanya pasar yang dipasang dengan benar, tapi juga pasar yang pedagangnya ikut menjaga. Beberapa hal kecil yang sebaiknya disepakati sejak awal dengan paguyuban pedagang, dan dari yang kami lihat, pasar yang punya kesepakatan ini hamparannya bertahan jauh lebih lama.
Pertama, tidak boleh membongkar keping untuk menancapkan tiang di luar titik yang sudah disediakan. Kedua, air cucian dibuang ke saluran, bukan disiramkan ke hamparan. Ketiga, sampah organik dikumpulkan ke tempat sampah sebelum pedagang pulang, bukan disapu ke bawah meja lapak. Keempat, kendaraan pengangkut hanya boleh berhenti di zona bongkar muat, tidak masuk ke lorong gerobak.
Aturan ini terdengar sederhana, tapi tanpa kesepakatan, hamparan pasar yang dipasang dengan baik pun bisa rusak dalam dua tahun. Dan hamparan pasar yang rusak lebih mahal diperbaiki daripada hamparan rumah, karena setiap perbaikan harus dijadwalkan di sela jam pasar dan melibatkan banyak pihak.
Pertanyaan yang Sering Masuk
Tebal berapa untuk halaman pasar?
8 cm di zona bongkar muat dan jalur truk. Area lapak dan pejalan kaki cukup 6 cm dengan alas yang benar.
Kenapa jalur gerobak cepat gompal?
Roda kecil menghantam tepi keping di setiap nat. Pakai keping padat, nat penuh, dan bentuk besar dengan sedikit garis nat.
Los ikan dan daging pakai paving?
Paling awet pakai lantai cor miring ke saluran. Kalau paving, wajib saluran terbuka di depan los.
Warna apa untuk area lapak?
Abu natural, paling menyamarkan noda organik. Merah dan abu terang cepat terlihat kotor.
Dana bertahap, mulai dari mana?
Saluran utama dan zona bongkar muat dulu, lalu jalur gerobak, area lapak terakhir.
Bisa dikerjakan saat pasar tetap buka?
Bisa, per blok setelah pasar bubar, dan blok hari itu selesai dipadatkan sebelum truk subuh datang.
Merencanakan Paving untuk Pasar Desa?
Kirim denah atau sketsa pasar, tandai zona bongkar muat, los basah, dan lorong gerobak, serta jadwal hari pasarannya. Dari situ bisa disusun kebutuhan keping per zona, kanstin, saluran, dan jadwal pengiriman yang tidak mengganggu pedagang. UD Lancar Berkah Jaya Beton di Jl. Raya Kedawung 99, Ngijo, Karang Ploso, Malang, mencetak sendiri paving block, kanstin, U-ditch, dan genteng betonnya.